Perbandingan Busi Racing dan Busi Standart

posted in: Automotive Tricks | 0

Perbandingan Busi Racing dan Busi Standart

Kali ini marah merah akan membahas masalah perbandingan busi racing dan busi standart, banyak temen yang minta saran, busi racing apa sih yang cocok untuk motor ini? mungkin pertanyaan tersebut juga sering terdengar di telinga anda semua.

Kontruksi Busi
Kontruksi Busi

Busi memiliki proses kerja(pembakaran) self-cleaner! bahasa simpelnya yaitu pembersihan -sendiri. Nah disini banyak orang tidak paham! Busi racing dan busi es-te-de memiliki angka self-cleaner yang berbeda. busi racing bekerja pada range temperatur yang tinggi. hal tersebut tentu saja diperoleh pada putaran mesin yang tinggi. Pada rpm yang tinggi ini self-cleaner busi racing bekerja, jadi kalo  rpm-nya rendah self-cleaner gak jalan, businya akan terjadi ngupil (berkerak), tenaga juga akan drop dan busi cepat mati! Dalam pengapian, busi tidak bekerja sendiri. ada komponen lain yang menunjang kinerjanya, mulai dari pulser/sensor, CDI juga koil. kalo komponen-komponen yang lain saja masih standart berarti api yang di umpan dari koil juga segitu-segitu aja! nah disini busi racing tidak bisa menerima perlakuan yang standart, karena busi racing sendiri di desain para engineer-nya untuk kompetisi. Pilih seri busi yang paling sesuai dengan kompresi motor Standart dapat di lihat dari kode busi. Misalnya ND atau NGK, rumusnya semakin kecil kode, maka semakin rendah pula self-cleaner nya. Di serinya ada angka 6, 7 dan seterusnya.

Self Cleaning Busi
Self Cleaning Busi

Beda di bahan dasar elektrodanya.Kalau busi standar berbahan nikel, sementara busi racing (sebutan tepatnya busi HIGH PERFORMANCE) berbahan platinum dan iridium. Beda bahan dasar tentu berbeda kemampuannya dalam menerima dan melepas tegangan arus listrik. Nikel sanggup menyalurkan tegangan dari 10.000-12.000 volt. Artinya, nikel kelabakan menerima tegangan dibawah 10.000 volt dan kedodoran diatas 12.000 volt. Platinum sanggup menyalurkan dari 8.000 volt sampai 15.000 volt, sedangkan Iridium dari 5.000 volt sampai 18.000 volt. Dari sini bisa terlihat bahwa Iridium adalah bahan dasar elektroda yang paling bagus kemampuannya, sebab namanya busi yang baik tidak hanya mampu menerima arus/tegangan tertinggi, tapi juga efisien menyalurkan daya yang rendah. Yang penting perlu diperhatikan adalah koil-nya, bila pakai koil racing wajib pakai busi platinum atau iridium, bila pakai busi nikel (standar) kagak tahan, akan meleh elektrodanya akibat arus yang besar dari koil racing tersebut.

Perlu di ketahui juga titik lebur tertinggi dipegang oleh iridium (2400 derajat celcius), lalu platinum ( 1900derajat celcius), nikel(1400derajat celcius), emas (1100derajat celcius) dan perak (800 derajat celcius).

Busi racing bekerja pada termperatur yang tinggi. untuk mencapai hal tersebut banyak cara yang bisa dilakukan. dari

langkah pertama yaitu menaikkan kompresi. bisa ditempuh dengan berbagai cara, mulai dari over size,mengurangi packing atau mengurangi ketinggian ruang bakar (memapas head silinder).

langkah kedua adalah menyesuaikan pengapian. karena kompresi sudah naik maka pengapian juga harus advance, yaitu dengan mengganti CDI standart dengan CDI yang programmable. CDI ini juga memiliki angka limit yang tinggi, biasanya diatas 12000rpm.

langkah ketiga yaitu menyesuaikan octane BBM. hal ini dilakukan untuk menghilangkan gejala detonasi. Pilih yang angka RON dan MON-nya yang tinggi di atas 92.

Sehingga jelas, jika motor Standart pake busi racing pasti cepet mati dan seperti brebet. kalo ada yang bilang aku pake busi tipe iridium tapi oke-oke saja, berarti anda beli yang elektrodanya iridium yang untuk harian! karena elektroda busi sendiri ada bermacam-macam dari tembaga, platinum, iridium, silver/gold (khusus silver/gold indent). elektroda tersebut memiliki daya hantar yang berbeda, semakin bagus daya hantarnya ya semakin mahal.

demikian bahasan marah merah mengenai perbandingan busi racing dan busi standart, Semoga bermanfaat.

Follow Marah Merah:

Knowledge Is Power

Leave a Reply